Social Icons

Pages

Tuesday, June 19, 2012

Penerbitan Himbauan Membayar KMS

Kegiatan Membangun Sendiri Yang Dikenakan PPN
Kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN apabila :
  1. kegiatan membangun bangunan yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain, termasuk yang dilakukan melalui kontraktor atau pemborong tetapi atas kegiatan membangun tersebut tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai.
  2. bangunan adalah berupa satu atau lebih konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada satu kesatuan tanah dan/atau perairan dengan kriteria:
    1. konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejenis, dan/atau baja;
    2. diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha;
    3. luas keseluruhan paling sedikit 300 m2 (tiga ratus meter persegi).
Tarif Dan Dasar Pengenaan Pajak
  1. Kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN sebesar 10 % (sepuluh persen) dari Dasar Pengenaan Pajak.
  2. Dasar Pengenaan Pajak atas kegiatan membangun sendiri adalah 40% (empat puluh persen) dari jumlah biaya yang dikeluarkan dan atau dibayarkan untuk membangun bangunan, tidak termasuk harga perolehan tanah.
  3. Termasuk dalam pengertian jumlah biaya yang dikeluarkan dan atau dibayarkan untuk membangun sendiri adalah juga jumlah PPN yang dibayar atas perolehan bahan dan jasa untuk kegiatan membangun sendiri tersebut.
Saat Dan Tempat Pajak Terutang
  1. Saat yang menentukan PPN terutang adalah saat mulai dibangunnya bangunan.
  2. Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan secara bertahap dianggap merupakan satu kesatuan kegiatan sepanjang tenggang waktu antara tahapan-tahapan tersebut tidak lebih dari 2 (dua) tahun.
  3. Tempat pajak terutang atas kegiatan membangun sendiri adalah di tempat bangunan tersebut didirikan.
Penyetoran Dan Pelaporan
  1. PPN yang terutang sebesar 10% x 40% dari seluruh biaya yang dikeluarkan dan atau dibayarkan pada setiap bulannya, harus disetorkan seluruhnya dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atas nama orang pribadi atau badan yang melaksanakan kegiatan membangun sendiri ke Kantor Pos atau Bank Persepsi paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah berakhirnya masa pajak.
    Dalam hal kegiatan membangun sendiri dilakukan oleh PKP, PPN yang tercantum dalam SSP tersebut tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran, karena pembayaran PPN tersebut merupakan pembayaran PPN untuk kegiatan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan PKP yang bersangkutan.
  2. Orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri wajib melaporkan pada KPP di tempat bangunan tersebut berada dengan mempergunakan SSP lembar ketiga bukti setoran PPN paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya masa pajak.
  3. Pajak Masukan yang dibayar sehubungan dengan kegiatan membangun sendiri tidak dapat dikreditkan.
Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan
  1. Dalam hal bangunan sebagai hasil kegiatan membangun sendiri digunakan oleh pihak lain sebagai tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha, orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri wajib menyerahkan bukti Surat Setoran Pajak asli Pajak Pertambahan Nilai atas kegiatan membangun sendiri kepada pihak lain yang menggunakan bangunan tersebut;
  2. Dalam hal orang pribadi atau badan yang membangun sendiri bangunan untuk digunakan pihak lain tidak dapat menunjukkan bukti Surat Setoran Pajak asli Pajak Pertambahan Nilai atas kegiatan membangun sendiri, pihak lain yang menggunakan bangunan tersebut bertanggung jawab secara renteng atas pembayaran Pajak Pertambahan Nilai yang terutang.

source: http://www.pajak.go.id/content/seri-ppn-dan-ppnbm-ppn-atas-kegiatan-membangun-sendiri

Penerbitan Daftar Nominatif Usulan Pemeriksaan

Tata Cara Penerbitan Daftar Nominatif Usulan Pemeriksaan
(Berdasarkan SOP)

source:   http://www.4shared.com/office/OGrecWlQ/kpp60-0015.html

Sunday, June 17, 2012

Analisa ZNT



A. Deskripsi 
   Prosedur operasi ini menguraikan tata cara pembentukan/penyempurnaan Zona Nilai Tanah/Nilai Indikasi Rata-rata (ZNT/NIR) yang digunakan untuk menilai objek pajak bumi secara massal dengan menerapkan ZNT/NIR pada suatu wilayah tertentu sebagai basis acuan nilainya. ZNT adalah zona geografis yang terdiri atas kelompok objek pajak yang mempunyai satu nilai indikasi rata-rata yang dibatasi oleh batas penguasaan/pemilikan objek pajak dalam satu satuan wilayah administrasi pemerintahan desa/kelurahan tanpa terikat pada batas blok, sedangkan NIR adalah nilai pasar rata-rata yang dapat mewakili nilai tanah dalam suatu ZNT.

B. Dasar Hukum 
   1. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-533/PJ./2000 tanggal 20 Desember 2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan dalam Rangka Pembentukan dan/atau Pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) s.t.d.d. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-115/PJ./2002 tanggal 4 Maret 2002

C. Surat Edaran Terkait 
  1. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-25/PJ.6/2006 tanggal 20 Juli 2006 tentang Tata Cara Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR
  2. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-26/PJ.6/2006 tanggal 27 Nopember 2006 tentang Pedoman Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR Atas Bumi Yang Memiliki Ciri Spesifik
  3. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-45/PJ.6/2003 tanggal 3 November 2003 tentang Aplikasi Bank Data Nilai Pasar Properti dan Petunjuk Pengoperasiannya Serta Kelengkapan Lainnya

D. Pihak Yang Terkait:
   1. Kantor Wilayah
   2. Kepala KPP
   3. Pejabat Fungsional Penilai PBB
   4. Kasi Ekstensifikasi
   5. Kasi Pengolahan Data dan Informasi
   6. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi
   7. Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi

E. Dokumen yang Dihasilkan
   1. Buku Laporan Analisa Zona Nilai Tanah/Nilai Indikasi Rata-Rata

F. Prosedur Kerja
  1. Kepala Seksi Ekstensifikasi menugaskan Pejabat Fungsional Penilai melalui Kepala Kantor Pelayanan Pajak untuk mengevaluasi dan menganalisa ZNT/NIR tahun sebelumnya yang diselaraskan/disesuaikan dengan data transaksi jual beli/penawaran/sewa sementara yang dihimpun dalam Bank Data Nilai Pasar Properti yang diperoleh dari berbagai macam sumber informasi sebagai bahan untuk pembentukan/pemeliharaan ZNT/NIR.
   2. Pejabat Fungsional Penilai menerima dan melaksanakan penugasan dengan melakukan penelitian pendahuluan terhadap wilayah Desa/Kelurahan tertentu yang perlu dilakukan penyesuaian ZNT/NIR sebagai representasi dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Bumi berdasarkan data/informasi yang diperoleh.
   3. Pejabat Fungsional Penilai menyusun dan menyampaikan konsep Rencana Kerja Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi.
   4. Kepala Seksi Ekstensifikasi meneliti dan memaraf konsep Rencana Kerja Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR dan meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Dalam hal Kepala Seksi Ekstensifikasi tidak menyetujui konsep Rencana Kerja Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR, maka Pejabat Fungsional Penilai harus memperbaiki konsep Rencana Kerja tersebut.
   5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani konsep Rencana Kerja Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR dan meneruskannya kepada Kepala Kantor Wilayah untuk mendapat persetujuan. Dalam hal Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak menyetujui konsep Rencana Kerja Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR, maka Pejabat Fungsional Penilai harus memperbaiki konsep Rencana Kerja tersebut. 
   6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menugaskan dan memberi disposisi kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi untuk melaksanakan Rencana Kerja sesuai persetujuan Kepala Kantor Wilayah.
   7. Kepala Seksi Ekstensifikasi menugaskan dan memberi disposisi kepada Pelaksana untuk menyusun konsep surat tugas kepada Pejabat Fungsional Penilai untuk melengkapi bahan dan keterangan lainnya dalam rangka Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR.
   8. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi menyusun konsep surat tugas Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR dan menyerahkan konsep tersebut kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi.
   9. Kepala Seksi Ekstensifikasi meneliti dan memaraf konsep Surat Tugas Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR, dan meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Dalam hal Kepala Seksi Ekstensifikasi tidak menyetujui konsep Surat Tugas Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR, maka Pelaksana Seksi Ekstensifikasi harus memperbaiki konsep Surat Tugas tersebut.
  10. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Tugas Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR, kemudian mengembalikan surat tugas tersebut kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi. Dalam hal Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak menyetujui konsep Surat Tugas Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR, maka Pelaksana Seksi Ekstensifikas harus memperbaiki konsep Surat Tugas tersebut.
  11. Pejabat Fungsional Penilai menerima dan melaksanakan penugasan dengan mempersiapkan bahan pelaksanaan, menghimpun dan mengolah data, serta menganalisa data transaksi jual beli/penawaran/sewa atau data lainnya yang diperoleh dari berbagai sumber informasi yang dihimpun melalui Bank Data Nilai Pasar Properti dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian seperlunya sebagai dasar dalam penentuan nilai pasar wajar yang dituangkan dalam Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) atas satu satuan ZNT.
  12. Pejabat Fungsional Penilai menyusun Buku Laporan Analisa Zona Nilai Tanah (ZNT)/Nilai Indikasi Rata-rata (NIR), dan menyampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagai pertanggungjawaban pelaksanakan penugasan.
  13. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani hasil pelaksanaan tugas Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR, dan meneruskannya kepada Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi.
  14. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi menugaskan dan memberi disposisi kepada Pelaksana untuk melakukan perekaman data ke dalam basis data berdasarkan Formulir Rekapitulasi Zona Nilai Tanah dan atau Formulir Pemutakhiran Zona Nilai Tanah.
  15. Pelaksana menerima dan melaksanakan penugasan untuk melakukan perekaman data ke dalam basis data sesuai dengan formulir yang ada.
  16. Proses selesai.

Jangka Waktu Penyelesaian:
Paling lama 10 (sepuluh) hari kerja.

 
Tata Cara Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR  (berdasarkan SOP)
 
source: 
http://www.4shared.com/office/Izz3f23k/kpp60-0009.html

Pembuatan Surat Himbauan ber-NPWP


A. Deskripsi 
   Prosedur operasi ini menguraikan tata cara penerbitan himbauan untuk mendaftarkan diri atau meminta NPWP bagi WP yang telah memenuhi syarat, namun diketahui belum memiliki NPWP.

B. Dasar Hukum
   Tidak ada

C. SE Terkait
   1. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-04/PJ.2/1997 tentang ekstensifikasi wajib pajak dengan pemanfaatan data PBB
   2. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-07/PJ.7/2005 tanggal 22 Juni 2005 tentang kebijakan pemeriksaan untuk tujuan lain

D. Pihak yang terkait 
   1. Kepala KPP
   2. Kasi ekstensifikasi perpajakan 
   3. Kasi pengawasan dan konsultasi 
   4. Pelaksana seksi ekstensifikasi perpajakan
   5. WP
   6. Pihak ketiga

E. Formulir yang Digunakan
   1. Nota Dinas Seksi Pengawasan dan Konsultasi
   2. Data pihak ketiga
   3. Laporan pengamatan lapangan 
   4. Alat keterangan

F. Dokumen yang Dihasilkan
  1. Surat himbauan untuk ber-NPWP

G. Prosedur Kerja
   1. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan berdasarkan dokumen masuk yang telah didisposisi Kepala Kantor Pelayanan Pajak, Nota Dinas dari Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi, data pihak ke tiga, laporan hasil penelitian pendahuluan, dan/atau alat keterangan, menyusun dan menugaskan Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk mencetak konsep Surat Himbauan NPWP.
   2. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mencetak konsep Surat Himbauan ber-NPWP dan menyampaikan konsep tersebut kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.
   3. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti, menyetujui, dan memaraf Surat Himbauan ber-NPWP serta meneruskannya ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak.
   4. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah, menyetujui, dan menandatangani Surat Himbauan ber-NPWP.
   5. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menyiapkan pengiriman Surat Himbauan yang telah ditandatangani dan menatausahakan arsipnya.
   6. Proses dilanjutkan ke SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.
   7. Proses selesai

Jangka waktu penyelesaian:
Paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak pemrosesan surat himbauan ber-NPWP dimulai.


Surat Himbauan Ber-NPWP
(berdasarkan SOP)

source: http://www.4shared.com/office/RADTIdgI/kpp60-0004.html

Friday, June 15, 2012

Pencarian Data

Pencarian Data NJOP Bumi 

Untuk oencarian data NJOP Bumi dapat di klik pada link di atas.

source: http://njop.pajak.go.id/